JAKARTA - Pergantian kepemimpinan regional di tubuh Bosch menjadi momentum penting bagi penguatan posisi Indonesia dalam peta bisnis global perusahaan teknologi asal Jerman tersebut.
Sejak awal 2026, Bosch menegaskan kembali komitmennya untuk memperluas penetrasi pasar di Asia Tenggara dan Oseania, dengan Indonesia sebagai salah satu kawasan kunci yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Langkah strategis ini bukan tanpa dasar. Pada tahun sebelumnya, Bosch telah membangun pabrik manufaktur baru di Indonesia dan menjadikannya sebagai basis produksi global. Fasilitas yang berlokasi di Kawasan Industri Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu dirancang sebagai pabrik modular pertama PT Robert Bosch di Indonesia. Keberadaan pabrik ini menjadi fondasi penting bagi penguatan rantai pasok dan efisiensi produksi Bosch di kawasan.
Peran Asia Tenggara dan Oseania dalam Peta Bisnis Bosch
Presiden Bosch untuk Asia Tenggara dan Oseania, Robert Hesse, menegaskan bahwa kawasan ini kini memiliki peran strategis dalam agenda pertumbuhan global perusahaan. Dalam keterangannya, Hesse menyebut bahwa Bosch telah hadir di Asia Tenggara dan Oseania selama lebih dari satu abad, dan kontribusi kawasan tersebut terus meningkat seiring perubahan dinamika pasar global.
“Bosch pertama kali hadir di kawasan ini lebih dari 100 tahun yang lalu, dan saat ini Asia Tenggara dan Oseania memainkan peran penting dalam strategi bisnis global Bosch untuk mempercepat pertumbuhan serta menyeimbangkan portofolio regional,” ujar Hesse.
Sejak resmi menjabat pada 1 Januari 2026, Hesse menegaskan fokus Bosch tidak hanya pada ekspansi bisnis, tetapi juga pada penyediaan teknologi dan layanan yang relevan dengan kebutuhan pasar lokal di masing-masing negara.
Indonesia Jadi Motor Pertumbuhan Bisnis Mobilitas Bosch
Dalam konteks regional, Indonesia menempati posisi strategis sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan Bosch, terutama pada sektor mobilitas dan purnajual mobilitas. Seiring meningkatnya permintaan otomotif nasional, Bosch melihat peluang besar untuk memperluas portofolio produk dan layanan yang mendukung ekosistem kendaraan di Tanah Air.
“Pada 2026 dan seterusnya, kami berkomitmen untuk menghadirkan lebih banyak teknologi terbaru Bosch ke kawasan ini serta memperluas penawaran layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan lokal,” kata Hesse.
Komitmen tersebut mencerminkan keyakinan Bosch terhadap prospek pasar domestik, khususnya di tengah transformasi industri otomotif yang semakin mengarah pada efisiensi, digitalisasi, dan keberlanjutan.
Kinerja Positif Bosch di Kawasan Regional
Strategi ekspansi Bosch di Asia Tenggara dan Oseania ditopang oleh kinerja keuangan yang solid. Sepanjang 2024, Bosch mencatatkan pertumbuhan yang menguntungkan di Asia Tenggara dengan total penjualan bersih mencapai 2,35 miliar euro, meningkat 17,8 persen secara tahunan.
Di kawasan Oseania, Bosch juga membukukan performa positif dengan penjualan bersih sebesar 803 juta euro, atau tumbuh 9,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan kekuatan fundamental bisnis Bosch di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di Indonesia sendiri, Bosch telah hadir sejak 1919 melalui jaringan mitra dan distributor. Penguatan komitmen ditandai dengan pendirian anak usaha PT Robert Bosch di Jakarta pada 2008, yang kemudian diikuti pembukaan kantor di berbagai kota seperti Surabaya, Batam, Balikpapan, Makassar, dan Denpasar.
Empat sektor bisnis utama Bosch di Indonesia meliputi mobilitas, teknologi industri, produk konsumen, serta energi dan teknologi bangunan.
Daya Tarik Industri Manufaktur Indonesia bagi Investor Global
Dari sisi makroekonomi, performa industri manufaktur nasional menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat daya tarik Indonesia bagi perusahaan global seperti Bosch. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur menunjukkan perkembangan yang solid, didorong oleh hilirisasi industri, pertumbuhan investasi, serta peningkatan efisiensi produksi.
Sejumlah subsektor diproyeksikan terus menjadi penopang pertumbuhan, antara lain industri makanan dan minuman, kimia dan petrokimia, logam dasar dan turunannya, komponen otomotif dan elektronik, serta industri pendukung transisi energi.
Indonesia juga mencatatkan prestasi di tingkat global dengan menempati peringkat ke-13 dunia sebagai negara dengan nilai tambah manufaktur tertinggi, mencapai USD265 miliar. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di posisi teratas dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) hampir dua kali lipat dibandingkan Thailand di peringkat kedua.
Dari sisi perdagangan internasional, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$38,54 miliar sepanjang Januari hingga November 2025, meningkat US$9,30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini mencerminkan semakin kuatnya daya saing industri nasional di pasar global.
“Momentum positif inilah yang mendorong perusahaan pemasok teknologi dan layanan global seperti Bosch untuk terus memperkuat keseimbangan portofolio regionalnya serta menangkap peluang pertumbuhan di Asia Tenggara dan Oseania, dengan Indonesia sebagai salah satu kawasan strategis dalam peta bisnis global perusahaan,” jelas Robert Hesse.