Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Rabu 21 Januari 2026

Rabu, 21 Januari 2026 | 08:45:53 WIB
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Rabu 21 Januari 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan pertengahan pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang saling tarik-menarik.

Di satu sisi, tekanan datang dari ketidakpastian geopolitik dan potensi eskalasi perang dagang global. Namun di sisi lain, prospek ekonomi domestik yang relatif solid memberikan bantalan bagi stabilitas rupiah. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan rupiah akan bergerak dinamis dengan kecenderungan melemah.

Pada perdagangan hari ini, Rabu, 21 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan risiko penutupan melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap berbagai perkembangan terbaru di tingkat internasional maupun domestik.

Pergerakan Rupiah dan Dolar AS Sehari Sebelumnya

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan Selasa, 20 Januari 2026 tercatat melemah tipis sebesar 0,01% atau 68 poin ke level Rp16.956 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS pada waktu yang sama justru mengalami koreksi.

Indeks dolar AS tercatat melemah 0,74% ke level 98,66. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari penguatan dolar AS secara global, melainkan juga dipengaruhi faktor sentimen risiko dan kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons isu-isu geopolitik.

Sentimen Global Tekan Pergerakan Mata Uang

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa faktor global masih menjadi salah satu penekan utama pergerakan rupiah. Salah satu isu yang menjadi perhatian pasar adalah sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland.

“Dari global, sikap Presiden Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya untuk Greenland. Kekhawatiran akan intervensi militer AS ini semakin meningkat,” ujarnya.

Selain isu geopolitik, kekhawatiran pasar juga dipicu oleh potensi kembali memanasnya perang dagang. Amerika Serikat disebut akan mengenakan bea tambahan sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Jika tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland, bea masuk tersebut berpotensi meningkat hingga 25% pada 1 Juni mendatang.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya aksi balasan dari negara-negara terdampak. Uni Eropa dan Inggris dilaporkan siap mengambil langkah serupa. Uni Eropa bahkan disebut tengah mempersiapkan tarif balasan hingga €93 miliar terhadap produk-produk asal Amerika Serikat, serta mempertimbangkan pembatasan akses perusahaan AS ke pasar Eropa.

Kebijakan The Fed dan Dampaknya ke Pasar

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Terkait prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (The Fed) akan menghentikan pelonggaran kebijakan moneternya pada pertemuan akhir bulan ini.

Perkiraan tersebut didasarkan pada kondisi pasar tenaga kerja AS yang dinilai masih stabil. Sikap The Fed yang cenderung menahan suku bunga berpotensi membuat dolar AS tetap menarik bagi investor, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Optimisme Domestik Jadi Penopang Rupiah

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Lembaga tersebut merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 dan 2027.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan berada di level 5,1%, sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi pertumbuhan tahun 2025 yang berada di kisaran 5%. Meski demikian, laju pertumbuhan tersebut masih dinilai relatif tinggi jika dibandingkan dengan banyak negara lain.

Dalam daftar 30 negara terpilih, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di bawah Filipina yang diproyeksikan tumbuh 5,6% pada 2026 dan 5,8% pada 2027, serta India yang diperkirakan tumbuh 6,4% pada periode yang sama. Kondisi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang solid di kawasan.

Proyeksi tersebut juga sejalan dengan pandangan Bank Dunia. Dalam perkiraan terbarunya, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di level 5,1% pada 2026, sama seperti laju pertumbuhan sepanjang 2023 hingga 2025, sebelum meningkat menjadi 5,2% pada 2027.

Bank Dunia menilai terjaganya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lepas dari efek stimulus ekonomi yang dikucurkan pemerintah sejak 2025, serta peran investasi yang terus dimotori oleh pemerintah. Faktor-faktor ini menjadi penopang fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Proyeksi Rupiah Hari Ini

Dengan mempertimbangkan seluruh sentimen tersebut, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif. Tekanan dari sentimen global diperkirakan masih dominan, meskipun optimisme terhadap prospek ekonomi domestik mampu menahan pelemahan lebih dalam.

Seiring dinamika tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam mencermati perkembangan global sekaligus menimbang kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.

Terkini