JAKARTA - Curah hujan tinggi merupakan karakter alam Indonesia yang tidak bisa dihindari.
Di satu sisi, hujan menjadi sumber kehidupan, namun di sisi lain dapat berubah menjadi ancaman ketika air tidak terserap dengan baik oleh tanah. Banjir pun kerap terjadi saat musim hujan, sementara pada musim kemarau justru muncul persoalan kekeringan. Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa persoalan air bukan semata jumlah hujan, melainkan kemampuan lingkungan dalam menyimpannya.
Salah satu solusi alami yang telah lama terbukti efektif adalah keberadaan tanaman dan pepohonan dengan daya serap air tinggi. Pohon-pohon besar dengan sistem perakaran kuat berfungsi layaknya spons alami yang menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke permukaan tanah. Air tersebut kemudian disimpan di dalam tanah dan dilepaskan secara perlahan, sehingga membantu menjaga cadangan air tanah sepanjang tahun.
Menariknya, jauh sebelum ilmu hidrologi berkembang, masyarakat Nusantara telah memahami fungsi vital pohon-pohon ini. Melalui mitos, cerita rakyat, dan kepercayaan turun-temurun, sejumlah tanaman dianggap sakral atau keramat. Di balik nuansa mistis tersebut, tersimpan kearifan lokal yang secara tidak langsung melindungi lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Pohon-pohon yang dijaga dengan cara ini terbukti berperan besar sebagai penyerap air, penahan erosi, dan penjaga kestabilan tanah. Dengan melestarikannya, manusia tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga mengamankan sumber daya air bagi generasi mendatang. Berikut empat tanaman utama yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap air dan membantu mencegah banjir.
1. Pohon Beringin (Ficus benjamina)
Melansir Bulelengkab, Minggu, 18 Januari 2026, pohon beringin dikenal sebagai salah satu penyerap air paling unggul di wilayah tropis. Keistimewaannya terletak pada sistem perakaran yang sangat kompleks, terdiri dari akar gantung dan akar lateral yang menyebar luas di bawah permukaan tanah. Struktur ini memungkinkan beringin mencengkeram tanah dengan kuat sekaligus menciptakan ruang pori besar untuk menyimpan air dalam jumlah sangat besar.
Di berbagai daerah di Jawa dan Bali, pohon beringin kerap tumbuh di dekat mata air atau persimpangan jalan. Keberadaannya sering dikaitkan dengan cerita mistis atau dianggap memiliki penunggu gaib. Kepercayaan tersebut membuat masyarakat enggan menebangnya sembarangan, sehingga beringin tetap terjaga selama ratusan tahun.
Secara ilmiah, beringin berperan penting dalam menjaga ketersediaan air tanah. Saat hujan turun deras, akar-akarnya akan menyerap air dengan cepat, lalu melepaskannya secara perlahan ke dalam tanah. Inilah sebabnya area di sekitar beringin cenderung lembap dan memiliki sumber air yang stabil, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda.
2. Pohon Trembesi (Samanea saman)
Trembesi sering dijuluki sebagai “pohon hujan” karena kemampuannya dalam mengelola air secara alami. Tajuknya yang sangat lebar menyerupai payung raksasa mampu menahan dan memecah jatuhnya air hujan, sehingga mengurangi limpasan langsung ke permukaan tanah.
Kemampuan ini sangat penting untuk mencegah aliran air permukaan berlebihan yang sering memicu banjir di daerah hilir. Selain itu, trembesi memiliki akar yang kuat dan mampu menembus lapisan tanah keras, berfungsi seperti pompa alami yang membantu menyimpan air di dalam akuifer tanah.
Di masa lalu, pohon trembesi yang besar dan berusia tua sering dianggap keramat dan tidak boleh ditebang. Meski terdengar mistis, larangan tersebut berperan sebagai mekanisme sosial untuk menjaga kelestarian pohon. Tanpa perlindungan semacam ini, banyak trembesi besar mungkin telah hilang akibat pembangunan, yang pada akhirnya mengurangi daya serap air suatu wilayah.
3. Tanaman Bambu
Bambu dikenal luas sebagai bahan bangunan dan tanaman hias, namun fungsinya sebagai penyimpan air alami sering luput dari perhatian. Tanaman ini memiliki sistem akar rimpang atau rizoma yang sangat rapat dan saling terhubung di bawah tanah. Struktur akar tersebut sangat efektif dalam menahan air hujan sekaligus mencegah tanah longsor, terutama di daerah lereng.
Hutan bambu kerap diselimuti cerita mistis, mulai dari suara desiran angin yang dianggap menyerupai bisikan hingga kisah makhluk halus yang tinggal di dalamnya. Kepercayaan ini membuat masyarakat cenderung menjaga dan tidak mengeksploitasi bambu secara berlebihan.
Dari sisi ekologis, daun bambu yang gugur membentuk lapisan serasah yang berfungsi sebagai mulsa alami. Lapisan ini menjaga kelembapan tanah dan membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Dengan pertumbuhan yang cepat dan daya serap air yang tinggi, bambu menjadi pilihan ideal sebagai tanaman konservasi.
4. Pohon Aren dan Mahoni
Pohon aren dan mahoni memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem perbukitan dan sumber air. Aren memiliki akar serabut yang sangat padat, sehingga efektif menahan air dan mencegah erosi di daerah curam. Sementara itu, mahoni memiliki akar tunggang yang kuat dan mampu menembus lapisan tanah dalam, memberikan stabilitas pada struktur tanah.
Di banyak daerah pedalaman, kedua pohon ini diperlakukan dengan penuh penghormatan. Praktik seperti meminta izin sebelum menebang pohon bukan sekadar ritual spiritual, melainkan bentuk pembatasan eksploitasi alam. Nilai-nilai ini memastikan pohon-pohon penyerap air tidak habis demi kepentingan jangka pendek.
Kini, ilmu pengetahuan modern menguatkan apa yang telah dijaga leluhur melalui kearifan lokal. Menjaga pohon aren dan mahoni berarti menjaga keseimbangan air dan kelangsungan hidup manusia. Kesadaran untuk melestarikan tanaman-tanaman ini menjadi langkah penting dalam menghadapi ancaman banjir dan krisis air di masa depan.