JAKARTA - Upaya pemerintah pusat dalam memperkuat fondasi pendidikan nasional kembali mendapat pengakuan dari daerah.
Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan beriringan dengan revitalisasi satuan pendidikan dinilai membawa dampak nyata. Kehadiran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bukan hanya dipandang sebagai bentuk dukungan administratif, melainkan komitmen konkret dalam menjawab kebutuhan mendasar sekolah-sekolah di daerah.
Apresiasi tersebut datang langsung dari Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo. Ia menilai perhatian pemerintah pusat terhadap pendidikan di wilayahnya menjadi suntikan semangat bagi pemerintah daerah untuk terus berbenah. Program MBG yang menyasar kebutuhan gizi peserta didik berjalan beriringan dengan pembenahan infrastruktur sekolah, sehingga perbaikan kualitas pendidikan dilakukan secara menyeluruh.
Dukungan Pusat Dinilai Perkuat Pendidikan Daerah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerima apresiasi positif dari Bupati Klaten, Provinsi Jawa Tengah terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga revitalisasi satuan pendidikan.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan apresiasi kehadiran Pemerintah Pusat melalui Kemendikdasmen, atas dukungan dan komitmen nyata terhadap pendidikan di Kabupaten Klaten.
“Kehadiran Pemerintah hari ini kami ucapkan terima kasih kepada bapak Menteri, karena disisi lain bagaimana program MBG (Makan Bergizi Gratis) ini berjalan, disisi lain juga tetap Revitalisasi sekolah bisa dilaksanakan. Doa kami untuk pak Menteri diberi kesehatan dan kelancaran, sehingga semakin banyak sekolah-sekolah di seluruh negeri, utamanya di Kabupaten Klaten yang di revitalisasi,” kata Hamenang Wajar Ismoyo dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Rabu.
Ia menyebutkan tantangan pendidikan saat ini semakin luar biasa, harus ada transformasi di dunia pendidikan melalui digitalisasi, namun di sisi lain masih ada masalah dasar yakni kesenjangan infrastruktur pendidikan.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya berbicara mengenai teknologi dan digitalisasi, tetapi juga pembenahan sarana fisik. Ketika infrastruktur belum merata, proses pembelajaran berpotensi terhambat. Oleh sebab itu, langkah revitalisasi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang layak.
Revitalisasi Sekolah Bawa Dampak Nyata
Pada kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SMPN 6 Klaten Yustina Nevi Kusharini menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo dan Mendikdasmen Abdul Mu’ti atas bantuan program revitalisasi yang mereka terima. SMPN 6 Klaten menerima bantuan berupa 2 ruang kelas, 2 rehab toilet dan 1 rumah singgah.
“Bantuan revitalisasi ini sangat membantu bagi kami dalam perbaikan sarana dan prasarana, guna mendukung proses pembelajaran, di mana ini memberikan dampak positif bagi guru dan murid, sehingga dalam proses pembelajaran semakin lancar, semakin aman, nyaman, dan layak bagi proses pembelajaran,” kata Yustina.
Ia pun berharap program revitalisasi ini dapat terus dilanjutkan dan dilaksanakan setiap tahunnya, menurutnya dengan program revitalisasi ini sarana dan prasarana sekolah semakin lengkap.
“Sehingga ke depannya, sekolah yang aman, nyaman, layak bagi proses pembelajaran, itu bisa kami wujudkan,” kata Yustina.
Dampak revitalisasi tidak hanya terlihat pada perubahan fisik bangunan, tetapi juga pada atmosfer belajar yang lebih kondusif. Ruang kelas baru memberikan kapasitas tambahan, perbaikan toilet meningkatkan sanitasi, dan keberadaan rumah singgah mendukung kebutuhan tertentu di lingkungan sekolah. Semua itu menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sehat dan produktif.
Anggaran dan Cakupan Revitalisasi di Klaten
Sebagai informasi, total alokasi anggaran bagi 92 satuan pendidikan di Kabupaten Klaten yang mendapatkan revitalisasi ialah sebesar Rp.61,015,263,755.
Besarnya anggaran tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membenahi fasilitas pendidikan secara terstruktur. Revitalisasi tidak dilakukan secara parsial, melainkan menyasar puluhan satuan pendidikan agar pemerataan kualitas sarana dapat terwujud.
Adapun revitalisasi yang dilakukan, meliputi Pembangunan ruang kelas baru (RKB), Rehabilitasi ruang kelas, Pembangunan toilet beserta sanitasinya, Pembangunan ruang UKS, Pembangunan ruang perpustakaan, Pembangunan ruang laboratorium beserta perabotnya, serta Pembangunan area bermain beserta Alat Peraga Edukatif (APE) luar ruang untuk TK dan PAUD.
Ragam pembangunan tersebut mencerminkan pendekatan komprehensif. Tidak hanya ruang belajar utama yang diperhatikan, tetapi juga fasilitas pendukung seperti UKS, perpustakaan, laboratorium, hingga area bermain bagi anak usia dini. Dengan demikian, kebutuhan pembelajaran dari berbagai jenjang dapat terfasilitasi secara lebih memadai.
Sinergi Program Gizi dan Infrastruktur Pendidikan
Pelaksanaan MBG yang berjalan bersamaan dengan revitalisasi sekolah menjadi kombinasi strategis. Program gizi memastikan peserta didik mendapatkan asupan yang cukup untuk mendukung konsentrasi dan kesehatan, sementara pembenahan infrastruktur menciptakan ruang belajar yang aman dan layak.
Sinergi ini memperlihatkan bahwa peningkatan mutu pendidikan memerlukan pendekatan multidimensi. Tantangan digitalisasi dan transformasi pembelajaran memang penting, namun persoalan mendasar seperti kondisi bangunan dan sanitasi tidak bisa diabaikan. Apresiasi dari pemerintah daerah menunjukkan bahwa langkah Kemendikdasmen dinilai tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan riil di lapangan.
Ke depan, harapan yang disampaikan pemerintah daerah dan pihak sekolah menjadi catatan penting agar program revitalisasi terus berlanjut. Dengan dukungan anggaran yang memadai serta koordinasi pusat dan daerah yang solid, pemerataan kualitas pendidikan di berbagai wilayah diharapkan dapat semakin terwujud.